JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pengembangan peternakan ayam terintegrasi yang didanai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai berjalan pada 2026.
Proyek ini merupakan bagian dari pengu
atan hilirisasi ayam nasional yang mencakup seluruh rantai bisnis perunggasan, dari pembibitan, pakan, kesehatan hewan, hingga pengolahan, distribusi, dan pemasaran. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menargetkan proyek rampung maksimal dalam 1,5 tahun, dan diharapkan memberi kontribusi signifikan pada swasembada protein nasional.
“Kita sudah groundbreaking untuk lima wilayah. Pembangunan dimulai tahun ini, dan mudah-mudahan maksimal dua tahun sudah selesai. Kalau bisa 1,5 tahun,” ujar Amran.
Proyek ini sekaligus mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kebutuhan tambahan diperkirakan mencapai 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur per tahun.
Groundbreaking fase awal proyek dilakukan di enam lokasi pada Jumat , 6 Feberuari 2026, yang mencakup Malang (Jawa Timur), Bone (Sulawesi Selatan), Gorontalo Utara, Paser (Kalimantan Timur), Sumbawa (NTB), dan Lampung Selatan. Proyek akan diperluas secara bertahap hingga 30 titik di seluruh Indonesia untuk memastikan distribusi produksi yang merata.
Hilirisasi Terpadu Mulai dari Pembibitan hingga Pengolahan
Salah satu fokus utama proyek adalah pembangunan ekosistem hilirisasi ayam secara terpadu. Mulai dari hulu, penguatan pembibitan dilakukan dengan pengelolaan grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga final stock (FS). Sistem ini diharapkan meningkatkan kualitas bibit ayam dan menjamin keberlanjutan produksi.
Selain pembibitan, pengembangan pakan berbasis bahan baku dalam negeri menjadi bagian penting proyek. Ketersediaan pakan lokal diharapkan menekan ketergantungan impor, meningkatkan efisiensi biaya produksi, dan mendorong pertumbuhan industri peternakan dalam negeri.
Layanan kesehatan hewan juga diperkuat, termasuk pemeriksaan rutin, vaksinasi, dan penanganan penyakit unggas secara cepat.
Di sisi hilir, pembangunan rumah potong hewan unggas (RPHU) serta fasilitas rantai dingin (cold chain) mendukung kualitas produk ayam dan telur yang sampai ke konsumen.
Selain itu, pengolahan daging dan telur terintegrasi juga memastikan produk bernilai tambah lebih tinggi, sementara dukungan logistik dan pemasaran akan membantu BUMN pangan menyerap hasil produksi peternak rakyat.
Investasi Jumbo Rp20 Triliun untuk Swasembada Protein Nasional
Proyek ini mendapatkan dukungan dana jumbo sebesar Rp20 triliun dari BPI Danantara, menandai salah satu investasi strategis terbesar di sektor peternakan dalam beberapa tahun terakhir.
Dana ini tidak hanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur, tetapi juga untuk pengembangan teknologi dan sistem manajemen produksi modern yang terstandarisasi.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa proyek hilirisasi menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. “Proyek hilirisasi selalu menjadi prioritas Bapak Presiden. Karena itu percepatan terus dilakukan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pendanaan ini juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga daging ayam dan telur di pasar domestik. Direktur Utama ID Food, Gimoyo, menjelaskan bahwa BUMN pangan akan menyerap hasil produksi peternak rakyat untuk menyeimbangkan pasokan, sehingga harga di konsumen tetap terjangkau dan volatilitas pasar dapat dikendalikan.
Lokasi dan Tahap Pembangunan Proyek
Tahap awal pengembangan peternakan ayam dilakukan di enam lokasi strategis di berbagai provinsi. Selain Malang, Bone, Gorontalo Utara, Paser, Sumbawa, dan Lampung Selatan, proyek akan terus diperluas hingga mencakup total 30 lokasi di seluruh Indonesia.
Pemilihan lokasi mempertimbangkan akses transportasi, potensi sumber daya lokal, serta kapasitas pasar regional untuk mendukung distribusi produk secara efisien.
Setiap lokasi akan dilengkapi fasilitas pembibitan, pakan, kesehatan hewan, pengolahan, dan fasilitas rantai dingin. Tujuannya adalah menciptakan sistem produksi yang terintegrasi dari hulu ke hilir, sehingga setiap tahap proses produksi dapat dipantau dan dioptimalkan.
Dengan demikian, proyek ini diharapkan meningkatkan kapasitas produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Manfaat Proyek untuk Ekonomi dan Konsumsi Nasional
Selain meningkatkan kapasitas produksi ayam dan telur nasional, proyek ini juga mendukung program pemerintah terkait konsumsi protein.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan tambahan 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur per tahun akan mendapatkan pasokan yang stabil. Hal ini diharapkan dapat menekan kekurangan gizi di kalangan masyarakat, terutama anak-anak sekolah.
Lebih jauh, pengembangan peternakan ayam terintegrasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Petani dan pengusaha kecil dapat menjadi bagian dari rantai pasok nasional, menerima pendampingan teknologi, serta akses ke pasar lebih luas.
Selain itu, proyek ini membuka lapangan kerja di berbagai sektor, mulai dari pembangunan infrastruktur, manajemen pakan, hingga distribusi dan pengolahan produk.
Proyek ini diproyeksikan tidak hanya mendukung swasembada protein, tetapi juga menjadi katalis bagi pengembangan industri peternakan modern di Indonesia.
Dengan integrasi hulu-hilir, efisiensi produksi meningkat, kualitas produk terjaga, dan kesejahteraan peternak rakyat diharapkan meningkat signifikan.